Ancaman Flare dan Denda Besar: Evaluasi Sanksi Rp250 Juta dan Penutupan Tribun Persebaya Pasca Laga Kontra Persib

11 Maret 2026, 15:51 WIB

Image from bolasport.com
Source: bolasport.com

Dunia sepak bola Indonesia kembali diwarnai insiden yang berujung pada sanksi berat. Kali ini, klub kebanggaan Kota Surabaya, Persebaya, harus menerima pil pahit berupa denda sebesar Rp250 juta.

Sanksi tersebut tidak datang sendiri, melainkan juga dibarengi dengan penutupan tribun di stadion markas mereka. Keputusan ini diambil menyusul adanya pelanggaran serius yang dilakukan suporter saat laga penting melawan rival klasik, Persib Bandung.

Penggunaan petasan dan kembang api, atau yang lebih dikenal dengan flare dan smoke bomb, menjadi pemicu utama. Aksi tersebut, meski kerap dianggap sebagai bagian dari ekspresi totalitas suporter, telah lama dilarang keras oleh regulasi sepak bola.

Detail Sanksi dan Dampaknya bagi Persebaya

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan hukuman ini setelah meninjau laporan pertandingan. Denda sebesar Rp250 juta adalah angka yang cukup signifikan dan berpotensi membebani keuangan klub.

Dana tersebut seyogyanya bisa dialokasikan untuk pengembangan tim, transfer pemain, atau perbaikan fasilitas. Namun, kini harus digunakan untuk membayar konsekuensi dari tindakan yang melanggar aturan.

Selain denda finansial, aspek yang tak kalah memberatkan adalah penutupan tribun. Keputusan ini biasanya berlaku untuk satu atau beberapa pertandingan kandang, bergantung pada tingkat pelanggaran dan keputusan Komdis.

Penutupan tribun berarti hilangnya pendapatan dari penjualan tiket di area tersebut. Lebih dari itu, Persebaya akan kehilangan dukungan masif dari para pendukung setianya yang biasa mengisi tribun yang ditutup, mengurangi ‘pemain ke-12’ mereka.

Mengapa Flare dan Petasan Dilarang?

Penggunaan flare dan petasan di stadion sejatinya bukan hanya masalah estetika atau ketertiban semata. Ada beberapa alasan krusial mengapa FIFA dan PSSI melarang keras penggunaannya:

  • Keselamatan Penonton dan Pemain: Potensi cedera serius akibat lontaran atau panas dari piroteknik sangat tinggi. Asap tebal juga bisa mengganggu pandangan, baik bagi penonton, pemain, maupun ofisial.
  • Keamanan Stadion: Risiko kebakaran, terutama di stadion dengan fasilitas yang sudah tua atau material yang mudah terbakar, selalu mengintai. Hal ini bisa memicu kepanikan massal dan berakibat fatal.
  • Gangguan Pertandingan: Asap yang mengepul dari flare kerap menghentikan pertandingan sementara. Hal ini merugikan kualitas laga dan dapat memengaruhi fokus pemain.
  • Citra Sepak Bola Nasional: Insiden penggunaan piroteknik yang berulang kali terjadi mencoreng citra sepak bola Indonesia di mata dunia internasional. Ini bisa berdampak pada kepercayaan FIFA atau AFC.

Regulasi PSSI, khususnya dalam Kode Disiplin, secara tegas mengatur larangan penggunaan piroteknik. Klub sebagai penyelenggara pertandingan bertanggung jawab penuh atas keamanan dan ketertiban di dalam stadion.

Perspektif PSSI dan Upaya Pencegahan

PSSI dan operator liga, PT Liga Indonesia Baru (LIB), secara konsisten menyerukan agar suporter mematuhi aturan. Mereka seringkali menyatakan komitmen untuk menjaga integritas dan profesionalisme kompetisi.

“Kami tidak akan berkompromi dengan pelanggaran yang membahayakan. Keselamatan adalah prioritas utama,” mungkin demikian pernyataan yang sering disampaikan oleh para petinggi federasi. Sanksi yang berat diharapkan dapat memberikan efek jera bagi klub dan suporter.

Upaya pencegahan terus dilakukan, mulai dari edukasi suporter, peningkatan pengamanan di pintu masuk stadion, hingga pemasangan CCTV. Namun, tantangan terbesar adalah mengubah budaya dan mentalitas sebagian kecil suporter yang masih menganggap flare sebagai bagian tak terpisahkan dari euforia.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Bagi Persebaya, sanksi ini menjadi pengingat pahit. Klub perlu bekerja lebih keras lagi dalam mengedukasi suporter dan memperketat pengawasan. Kerja sama antara manajemen, elemen suporter (bonek), dan pihak keamanan menjadi kunci untuk mencegah terulangnya insiden serupa.

Mungkin perlu adanya kampanye yang lebih masif, bahkan melibatkan para pemain idola, untuk menyampaikan pesan tentang bahaya dan konsekuensi penggunaan piroteknik. Kreativitas dalam mendukung tim juga bisa disalurkan melalui koreografi, nyanyian, atau atribut lain yang tidak melanggar aturan.

Insiden seperti yang menimpa Persebaya bukan yang pertama dan kemungkinan bukan yang terakhir jika tidak ada perubahan signifikan. Sepak bola adalah tentang gairah, tetapi gairah tersebut harus disalurkan dalam koridor sportivitas dan keselamatan. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan stadion yang aman, nyaman, dan tetap bergelora, tanpa harus mengorbankan aturan atau keselamatan.

Advertisment

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari GSMSummit.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang