Sutradara Angga Dwimas Sasongko: AI Cuma Alat Produktivitas, Kreativitas Manusia Tetap Raja!

14 Maret 2026, 00:15 WIB

Image from inet.detik.com
Source: inet.detik.com

Gelombang () generatif kini menerjang berbagai sektor, tak terkecuali industri kreatif yang gemerlap. Di tengah euforia dan kekhawatiran, seorang sutradara terkemuka Indonesia, Angga Dwimas Sasongko, melemparkan pandangan tajam yang memicu diskusi.

Angga menegaskan posisinya dengan gamblang: generatif bukanlah instrumen untuk menciptakan karya seni sejati. Sebaliknya, ia melihat hanya sebagai tool atau alat untuk mendukung . Pernyataan ini sontak menarik perhatian dan membuka kembali perdebatan fundamental tentang esensi kreativitas.

Mengungkap Perspektif Angga Dwimas Sasongko: Produktivitas vs. Kreativitas

Angga Dwimas Sasongko, sutradara di balik film-film inovatif seperti ‘Filosofi Kopi’ dan ‘Mencuri Raden Saleh’, memiliki pandangan yang kuat terhadap batasan AI. Baginya, ada garis tipis namun krusial yang memisahkan fungsi AI dari domain kreativitas manusia.

“AI generatif bukan alat untuk menciptakan karya seni, tapi hanya untuk mendukung ,” ujar Angga. Kalimat lugas ini menjadi inti dari pemikirannya, yang menggarisbawahi pentingnya peran manusia sebagai pencipta.

AI sebagai Peningkat Produktivitas

Ketika Angga menyebut AI sebagai alat , ia merujuk pada kemampuannya untuk mengotomatisasi tugas-tugas repetitif atau membantu dalam fase awal produksi. Ini bisa mencakup berbagai aspek dalam proses pembuatan film dan karya seni lainnya.

  • Generasi Ide Awal: AI dapat membantu dalam brainstorming konsep, menghasilkan sinopsis singkat, atau sketsa karakter berdasarkan prompt tertentu.
  • Analisis Data: Menganalisis naskah untuk pola naratif, memprediksi tren pasar, atau mengidentifikasi audiens potensial untuk sebuah film.
  • Efisiensi Produksi: Membantu dalam penjadwalan, manajemen aset digital, atau bahkan dalam membuat pre-visualisasi efek khusus (VFX) sederhana.
  • Alat Bantu Penulisan: Memeriksa tata bahasa, gaya penulisan, atau memberikan saran untuk pengembangan alur cerita dasar.

Fungsi-fungsi ini sangat berharga untuk mempercepat alur kerja dan membebaskan waktu seniman. Namun, menurut Angga, semua itu tetap berada di ranah efisiensi, bukan di inti penciptaan ide orisinal yang berjiwa.

Mengapa AI Bukan Alat Kreativitas Sejati?

Bagi Angga, kreativitas sejati berakar pada pengalaman hidup, emosi, intuisi, dan visi unik seorang seniman. Ini adalah dimensi yang diyakininya tidak dapat direplikasi oleh algoritma atau data.

Seni, pada hakikatnya, adalah ekspresi jiwa, refleksi kemanusiaan, dan jembatan emosional antara pencipta dan penikmat. Unsur-unsur inilah yang membedakan sebuah karya yang memiliki ‘jiwa’ dari sekadar kumpulan data yang diproses secara cerdas.

Menjelajahi Peran AI dalam Industri Kreatif Global

Pandangan Angga Dwimas Sasongko ini bukan tanpa dasar, dan selaras dengan banyak diskusi di kancah global. Hollywood, misalnya, baru-baru ini menghadapi mogok kerja besar dari Writers Guild of America (WGA) dan Screen Actors Guild (SAG-AFTRA) yang sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran terhadap AI.

Para penulis dan aktor menuntut perlindungan agar AI tidak digunakan untuk menggantikan pekerjaan mereka, mereplikasi penampilan mereka tanpa izin, atau digunakan untuk menulis naskah orisinal tanpa pengawasan manusia yang memadai. Mereka juga melihat AI sebagai alat, bukan mitra kreatif yang setara.

AI sebagai Inspirasi atau Sekadar Mimikri?

Perdebatan muncul ketika AI mampu menghasilkan gambar, musik, atau tulisan yang terlihat ‘kreatif’. Apakah ini berarti AI telah mencapai kreativitas? Banyak seniman berpendapat bahwa AI pada dasarnya adalah pattern recognition machine.

Ia belajar dari jutaan karya yang sudah ada dan menciptakan sesuatu yang baru berdasarkan pola tersebut. Hasilnya mungkin tampak orisinal, tetapi sejatinya adalah gabungan cerdas dari data yang ada, tanpa pemahaman emosional atau niat artistik yang dalam.

Tantangan Etika dan Hak Cipta

Penggunaan AI dalam seni juga menimbulkan masalah etika dan hak cipta yang kompleks. Siapa yang memiliki hak cipta atas karya yang dihasilkan AI? Bagaimana jika AI dilatih menggunakan karya-karya berhak cipta tanpa izin?

Pertanyaan-pertanyaan ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi regulator dan komunitas seniman. Angga Dwimas Sasongko mungkin menyoroti bahwa tanpa adanya ‘jiwa’ manusia sebagai pencipta utama, persoalan kepemilikan dan nilai intrinsik karya menjadi kabur.

Masa Depan Kolaborasi: Manusia sebagai Konduktor, AI sebagai Orkestra

Meskipun ada batasan, tidak bisa dipungkiri bahwa AI akan terus berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari banyak industri, termasuk kreatif. Kunci masa depan mungkin terletak pada kolaborasi yang cerdas, di mana manusia tetap menjadi konduktor utama.

AI bisa menjadi orkestra yang sangat andal, memainkan nada yang kompleks dan memberikan tekstur yang luar biasa, tetapi hanya manusia yang dapat menulis simfoni, memberikan emosi, dan mengarahkan keseluruhan performa agar memiliki makna mendalam. Angga Dwimas Sasongko menekankan bahwa visi, narasi, dan pesan utama harus tetap berasal dari sentuhan manusia.

Pentingnya Keahlian dan Sentuhan Manusia

Dalam konteks ini, keahlian manusia menjadi semakin penting. Seniman dan sineas perlu belajar bagaimana memanfaatkan AI sebagai alat, bukan menyerahkan kendali penuh kepadanya. Kemampuan untuk memberikan prompt yang efektif, mengarahkan hasil AI, dan menyuntikkan sentuhan personal adalah keterampilan baru yang harus dikuasai.

Pada akhirnya, teknologi adalah perpanjangan dari niat manusia. Jika niatnya adalah untuk menciptakan karya yang berjiwa, mendalam, dan original, maka sentuhan serta kepekaan manusia tetaplah tak tergantikan. Angga Dwimas Sasongko mengingatkan kita bahwa di tengah pesatnya kemajuan teknologi, jantung seni tetap berdetak pada denyut nadi kemanusiaan.

Advertisment

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari GSMSummit.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang