Terkuak! Tragedi Kepa di Final Carabao Cup: Dari Penolakan hingga Penalti Penentu

23 Maret 2026, 04:05 WIB

Image from sport.detik.com
Source: sport.detik.com

, nama yang tak asing lagi bagi para penggemar , khususnya mereka yang mengikuti perjalanan Chelsea. Sayangnya, kiper termahal dunia ini seringkali dihubungkan dengan momen-momen kelam, terutama saat tampil di panggung final .

Meskipun memiliki bakat besar, karier Kepa di Stamford Bridge bak roller coaster yang penuh drama. Dua final secara khusus telah mengukir citra yang sulit dihapus, menciptakan narasi pahit yang terus membayangi reputasinya.

Advertisement

Mari kita selami lebih dalam bagaimana Kepa menjadi simbol tragedi di kompetisi piala domestik Inggris ini, dari kontroversi yang mengguncang hingga blunder fatal yang tak terlupakan.

Momen Puncak Kejatuhan Sang Kiper Termahal Dunia

Perjalanan Kepa dengan Chelsea di final dimulai dengan insiden yang belum pernah terjadi sebelumnya, kemudian diakhiri dengan kesalahan yang paling menyakitkan. Kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang tekanan dan ekspektasi di level tertinggi.

Drama Final 2019: Menolak Ditarik Keluar

Final Carabao Cup 2019 antara Chelsea dan Manchester City menjadi saksi bisu sebuah insiden yang mengguncang dunia . secara terang-terangan menolak untuk diganti oleh manajer Maurizio Sarri menjelang babak adu penalti.

Momen tersebut, yang terjadi di Wembley, menciptakan ketegangan yang nyata di pinggir lapangan. Maurizio Sarri terlihat geram dan hampir meninggalkan area teknis, sementara publik terkejut dengan tindakan Kepa yang tak terduga.

“Saya melakukan kesalahan, dan saya meminta maaf kepada semua orang di klub, termasuk manajer,” ujar Kepa saat itu, mengakui kesalahannya yang menimbulkan kontroversi besar. Ia kemudian didenda satu minggu gaji.

Penolakan ini tidak hanya merusak hubungan Kepa dengan Sarri sementara waktu, tetapi juga menodai citra profesionalismenya di mata publik. Chelsea akhirnya kalah adu penalti, menambah luka dari insiden yang seharusnya bisa dihindari.

Final 2022: Pahlawan yang Berakhir Tragis

Tiga tahun kemudian, nasib mempertemukan Kepa kembali dengan final Carabao Cup, kali ini melawan Liverpool. Dalam strategi yang diyakini cerdas oleh manajer Thomas Tuchel, Kepa dimasukkan di menit-menit akhir perpanjangan waktu khusus untuk adu penalti.

Sebagai spesialis penalti, harapan besar diletakkan di pundaknya untuk menjadi pahlawan. Ia pernah membawa Chelsea menjuarai UEFA Super Cup 2021 melalui adu penalti, menepis dua tendangan Villarreal.

Namun, takdir berkata lain. Setelah semua pemain outfield, termasuk kiper Liverpool Caoimhin Kelleher, berhasil mencetak gol, giliran Kepa maju sebagai penendang terakhir. Penalti krusial yang seharusnya menjadi momen penyelamatan justru berubah menjadi blunder.

Tendangannya melambung tinggi di atas mistar gawang, memastikan kekalahan Chelsea dan kegagalan meraih trofi. Momen ini menjadi penutup tragis bagi upaya Kepa yang diturunkan khusus untuk adu penalti.

Lebih dari Sekadar Blunder: Beban Kiper di Final

Insiden yang dialami Kepa di final-final Carabao Cup bukanlah sekadar kesalahan teknis belaka. Ada beban psikologis dan ekspektasi tinggi yang melekat pada peran seorang penjaga gawang, terutama dalam situasi krusial seperti adu penalti.

Seorang kiper seringkali adalah garis pertahanan terakhir, di mana setiap kesalahan bisa berakibat fatal. Di final, tekanan itu berlipat ganda, mengubah sorotan menjadi beban yang sangat berat dan intens.

Tekanan Psikologis di Titik Krusial

Adu penalti adalah ujian mental tertinggi. Kiper harus membaca gerakan penendang, membuat keputusan sepersekian detik, dan menanggung konsekuensi langsung dari kegagalan. Sebagai penendang penalti, beban kiper menjadi ganda; mereka harus menghentikan dan juga mencetak gol.

“Ketika Anda gagal di momen penting, itu terasa seperti seluruh dunia melihat Anda,” ucap seorang psikolog olahraga. Beban ini bisa menghancurkan mental atlet, bahkan yang paling berpengalaman sekalipun. Kisah Kepa adalah contoh nyatanya bagaimana tekanan bisa menguasai.

Karier Kepa: Roller Coaster di Bawah Ekspektasi

Saat didatangkan dari Athletic Bilbao pada tahun 2018 dengan harga fantastis €80 juta (sekitar Rp 1,3 triliun), menyandang status sebagai kiper termahal di dunia. Ekspektasi melangit mengiringi kedatangannya ke Liga Primer Inggris, diharapkan menjadi suksesor Thibaut Courtois.

Namun, penampilannya di Chelsea seringkali inkonsisten. Setelah musim debut yang cukup menjanjikan, performanya menurun drastis. Berbagai kesalahan mendasar membuatnya kehilangan kepercayaan, hingga akhirnya kehilangan tempat sebagai kiper utama kepada Edouard Mendy.

Meskipun sempat mendapatkan kembali kepercayaan dari beberapa manajer berikutnya, momen-momen buruk di final Carabao Cup terus menjadi noda dalam rekam jejaknya. Bahkan ketika dipinjamkan ke Real Madrid sebagai pengganti sementara Courtois yang cedera, ia tidak sepenuhnya berhasil mengamankan posisi kiper utama.

Kisah Kepa adalah pengingat bahwa label “kiper termahal” tidak selalu menjamin kesuksesan yang mulus. Butuh lebih dari sekadar harga transfer untuk bertahan di puncak, yaitu konsistensi, ketahanan mental yang luar biasa, dan kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan berulang kali.

Advertisment

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari GSMSummit.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang