Geger Argentina! Remaja Ramai-Ramai Identifikasi Diri sebagai Hewan, Ini Faktanya!

14 Maret 2026, 15:56 WIB

Image from inet.detik.com
Source: inet.detik.com

Geger di Buenos Aires, Argentina, sebuah fenomena yang tak biasa kini menjadi sorotan publik. Plaza-plaza kota berubah menjadi tempat berkumpul para remaja yang secara terbuka mengidentifikasikan diri mereka sebagai hewan. Pemandangan ini sontak memicu beragam reaksi dan pertanyaan dari masyarakat.

Ini bukan sekadar tren fesyen atau hobi biasa, melainkan sebuah ekspresi identitas yang lebih dalam. Remaja-remaja ini meyakini diri mereka memiliki ikatan spiritual, psikologis, atau bahkan esensi dengan spesies non-manusia. Fenomena ini telah menyebar cepat, terutama melalui platform media sosial dan menjadi perbincangan global.

Apa Itu Identifikasi Diri sebagai Hewan?

Memahami Konsep Therianthropy dan Otherkin

Identifikasi diri sebagai hewan secara umum dikenal sebagai therianthropy. Ini adalah keyakinan internal bahwa seseorang secara non-fisik adalah, atau memiliki jiwa, semangat, atau identitas inti dari spesies hewan non-manusia. Konsep ini bisa meliputi mamalia, burung, reptil, hingga serangga, dengan “kin-type” spesifik yang diyakini.

Di sisi lain, istilah “otherkin” merupakan payung yang lebih luas. Ia mencakup individu yang mengidentifikasi diri sebagai makhluk non-manusia, tidak hanya hewan terrestrial, tetapi juga makhluk mitologi seperti naga, elf, atau entitas fiktif lainnya. Perbedaannya terletak pada jenis identitas non-manusia yang diyakini.

Penting untuk membedakan identitas ini dari sekadar menyukai hewan atau mengenakan kostum. Bagi therian, identifikasi ini bersifat intrinsik dan mendalam, bukan pilihan hobi yang bisa dilepas sewaktu-waktu. Mereka merasakan adanya koneksi esensial dengan “kin-type” mereka di level yang sangat personal.

Mengapa Fenomena Ini Muncul di Kalangan Remaja?

Pencarian Identitas dan Komunitas

Masa remaja adalah fase krusial dalam pencarian jati diri yang seringkali penuh gejolak. Banyak remaja merasa terasing atau tidak menemukan tempatnya dalam norma sosial yang ada. Identifikasi diri sebagai hewan dapat menjadi cara untuk mengeksplorasi identitas dan menemukan komunitas yang menerima mereka apa adanya.

Mereka sering menemukan rasa memiliki yang kuat dalam kelompok therian atau otherkin. Di sana, mereka berbagi pengalaman, tantangan, dan dukungan emosional, menciptakan ikatan yang mungkin tidak mereka dapatkan di lingkungan sehari-hari. Ini memberikan rasa validasi dan pemahaman yang mendalam.

Pengaruh Media Sosial

Tidak dapat dipungkiri, platform seperti TikTok, YouTube, dan Reddit berperan besar dalam penyebaran fenomena ini. Konten yang dibagikan oleh komunitas therian dan otherkin mudah diakses, memungkinkan remaja di seluruh dunia untuk menemukan dan terhubung satu sama lain.

Video-video yang menampilkan “shifting” (perasaan berubah menjadi hewan), “quadrobics” (berlari atau bergerak seperti hewan), atau sekadar berbagi pengalaman hidup sebagai therian menjadi viral. Ini memberikan visibilitas dan legitimasi bagi identitas yang sebelumnya terpinggirkan, serta menarik minat banyak remaja lainnya.

Mekanisme Koping atau Ekspresi Diri?

Bagi sebagian remaja, identifikasi ini mungkin berfungsi sebagai mekanisme koping. Menghadapi tekanan akademik, masalah keluarga, atau kecemasan sosial bisa membuat mereka mencari pelarian atau cara untuk mengekspresikan diri yang berbeda dari realitas yang menekan.

Ini juga bisa menjadi bentuk ekspresi diri yang berani dan unik. Dalam masyarakat yang semakin homogen, menjadi therian atau otherkin menawarkan jalan untuk tampil beda, menantang konvensi, dan menegaskan individualitas mereka dengan cara yang mendalam dan personal.

Reaksi Publik dan Perdebatan Sosial

Antara Rasa Penasaran dan Stigma

Ketika fenomena ini mencuat, reaksi publik sangat beragam. Banyak yang menunjukkan rasa penasaran dan ingin memahami lebih lanjut tentang identitas ini, mengakui kompleksitasnya. Namun, tidak sedikit pula yang merespons dengan kebingungan, ejekan, bahkan stigmatisasi yang kuat.

Seringkali, therianthropy disalahpahami sebagai penyakit mental, pencarian perhatian, atau sekadar perilaku aneh. Stigma ini dapat menyebabkan diskriminasi dan isolasi bagi individu yang mengidentifikasi diri sebagai hewan, menambah beban psikologis pada mereka dan menghambat penerimaan sosial.

Perspektif Psikologis dan Medis

Secara umum, komunitas psikologi dan medis tidak mengklasifikasikan therianthropy atau otherkin sebagai gangguan mental. Ini lebih dianggap sebagai bagian dari spektrum identitas manusia yang luas, serupa dengan identitas gender atau orientasi seksual yang beragam.

Namun, jika seseorang merasa tertekan parah karena identitasnya, atau jika identifikasi ini mengganggu fungsi sehari-hari, bantuan profesional mungkin diperlukan. Bukan untuk “mengubah” identitas mereka, melainkan untuk mengatasi masalah kesehatan mental yang mungkin mendasari atau menyertai pengalaman mereka.

Membedakan dari Budaya Populer Lain

Bukan Sekadar Kostum: Perbedaan dengan Furries

Seringkali, therian dan otherkin disamakan dengan “furries”, sebuah subkultur penggemar karakter hewan antropomorfik. Meskipun keduanya melibatkan elemen hewan, ada perbedaan fundamental yang penting untuk dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Furries umumnya adalah komunitas hobi yang mengapresiasi seni, kostum (fursuits), dan cerita fiksi tentang karakter hewan dengan ciri manusia. Ini adalah bentuk ekspresi artistik dan komunitas sosial, tetapi jarang melibatkan identifikasi internal yang mendalam sebagai hewan itu sendiri.

Sebaliknya, therianthropy dan otherkin lebih tentang identitas inti. Seseorang yang therian tidak “berpura-pura” menjadi hewan; mereka merasa secara intrinsik adalah atau memiliki esensi hewan tersebut. Fursuits atau perilaku hewan seringkali hanya manifestasi eksternal dari identitas internal ini, bukan inti dari identitas itu sendiri.

Opini dan Refleksi: Bagaimana Kita Menyikapinya?

Fenomena identifikasi diri sebagai hewan di kalangan remaja Argentina, dan di seluruh dunia, mengajak kita untuk membuka pikiran. Ini adalah pengingat bahwa identitas manusia bisa sangat kompleks dan multidimensional, jauh melampaui kategori yang selama ini kita kenal atau pahami secara konvensional.

Penting bagi kita sebagai masyarakat untuk mendekati fenomena ini dengan rasa ingin tahu dan empati, bukan dengan penghakiman cepat. Memberikan ruang bagi individu untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan identitas mereka, selama tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain, adalah tanda masyarakat yang inklusif dan matang.

Mungkin, di balik setiap identifikasi yang tak biasa, ada cerita pencarian, penerimaan, dan keinginan untuk memahami diri di dunia yang terus berubah. Daripada mencibir atau mencemooh, mari kita mencoba memahami dinamika psikologis dan sosial yang mendorong ekspresi identitas seperti ini.

Fenomena remaja yang mengidentifikasi diri sebagai hewan di Argentina adalah contoh nyata bagaimana identitas terus berkembang dan diekspresikan dengan cara yang tak terduga di era digital. Ini bukan hanya sekadar “tren viral”, melainkan sebuah refleksi dari pencarian jati diri yang mendalam, kebutuhan akan komunitas, dan keberanian untuk hidup autentik di tengah masyarakat. Dengan pemahaman dan empati, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan suportif bagi semua bentuk identitas.

Ikuti Saluran WhatsApp Kami

Dapatkan update berita terkini dari GSMSummit.id langsung di WhatsApp Anda.

Ikuti Sekarang