Italia, sang raksasa sepak bola empat kali juara dunia, kembali menelan pil pahit. Setelah absen di edisi 2018, Gli Azzurri secara mengejutkan juga gagal melangkah ke Piala Dunia 2022.
Sebuah pukulan telak bagi negara yang baru saja merayakan gelar juara Euro 2020. Kegagalan beruntun ini bahkan membuat pelatih timnas Argentina, Lionel Scaloni, ikut menyatakan rasa simpati dan kesedihannya.
Dua Kegagalan Beruntun yang Mengguncang Dunia
Kekalahan Italia di babak play-off kualifikasi Piala Dunia 2022 dari tim “kurcaci” Makedonia Utara dengan skor tipis 0-1 menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah kualifikasi. Gol Aleksandar Trajkovski di menit akhir meruntuhkan impian jutaan tifosi.
Situasi ini mengulang skenario menyakitkan empat tahun sebelumnya. Pada kualifikasi Piala Dunia 2018, Italia juga harus tersingkir di babak play-off setelah kalah agregat dari Swedia. Sebuah rentetan hasil yang sulit dipercaya bagi tim sekelas Italia.
Ironi Sang Juara Eropa: Dari Puncak ke Jurang
Pemandangan ini terasa semakin ironis mengingat prestasi gemilang Italia di Euro 2020 (yang diselenggarakan pada 2021). Di bawah asuhan Roberto Mancini, mereka bermain sepak bola menyerang yang atraktif dan berhasil menaklukkan Inggris di final, membawa pulang trofi Henri Delaunay.
Dari euforia kemenangan Eropa, hanya berselang setahun, mereka harus menghadapi kenyataan pahit absen dari panggung sepak bola terbesar di dunia. Ini menimbulkan pertanyaan besar: Apa yang salah dengan tim Italia?
Misteri “Kutukan” Juara Eropa?
Beberapa pihak mulai berspekulasi tentang semacam “kutukan” bagi juara Eropa atau turnamen besar lainnya. Meski hanya kebetulan, ada beberapa preseden di mana tim yang berjaya di satu turnamen, justru terpuruk di turnamen berikutnya.
Misalnya, Prancis yang juara Piala Dunia 1998 dan Euro 2000, langsung tersingkir di fase grup Piala Dunia 2002. Atau Spanyol, juara Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, yang gagal total di fase grup Piala Dunia 2014. Namun, bagi Italia, kegagalan ini lebih kompleks daripada sekadar “kutukan”.
Simpati dari Juara Dunia, Lionel Scaloni
Lionel Scaloni, pelatih Argentina yang sukses membawa timnya menjadi juara Copa America dan kemudian juara Piala Dunia 2022, mengungkapkan rasa belasungkawanya. Ia memahami betul tekanan dan ekspektasi yang menyertai tim nasional besar.
“Tentu saja saya sedih. Saya adalah penggemar sepak bola dan saya menyukai sepak bola Italia,” ujar Scaloni, seperti yang dikutip banyak media. “Mereka telah memenangkan Piala Eropa dan mereka pantas mendapatkan tempat di Piala Dunia.”
Pernyataan Scaloni ini menunjukkan rasa hormat yang mendalam terhadap sejarah dan kontribusi Italia bagi sepak bola global. Kegagalan tim sekelas Italia memang meninggalkan lubang besar dalam turnamen sekelas Piala Dunia.
Dampak dan Refleksi Sepak Bola Italia
Absennya Italia tentu saja memberikan dampak signifikan, baik secara moril bagi para penggemar maupun secara finansial bagi federasi dan liga. Piala Dunia tanpa Azzurri terasa kurang lengkap, kehilangan salah satu daya tarik utamanya.
Ini juga memicu introspeksi mendalam di kalangan sepak bola Italia. Perlu ada evaluasi menyeluruh mengenai pengembangan pemain muda, strategi liga, dan pendekatan taktis untuk memastikan bahwa “tragedi” ini tidak terulang di masa depan.
Banyak analis menyoroti kurangnya striker tajam, ketergantungan pada pemain-pemain veteran, dan mungkin juga tekanan psikologis yang terlalu besar setelah memenangkan Euro. Tantangan bagi Italia adalah menemukan kembali identitas dan semangat juang mereka.
Masa Depan Azzurri: Bangkit dari Keterpurukan
Setelah kegagalan di kualifikasi Piala Dunia 2022, Roberto Mancini sempat tetap melatih namun akhirnya mundur, digantikan oleh Luciano Spalletti. Dengan wajah baru di kursi kepelatihan dan potensi regenerasi skuad, harapan untuk kebangkitan kembali menyala.
Italia memiliki talenta-talenta muda yang menjanjikan dan sejarah panjang sebagai negara sepak bola adidaya. Tantangan selanjutnya adalah membangun tim yang solid, adaptif, dan mampu bersaing di level tertinggi untuk kembali ke panggung Piala Dunia 2026.
Kegagalan ini, betapapun menyakitkan, harus menjadi pelajaran berharga. Jalan menuju penebusan mungkin panjang, tetapi semangat “Forza Azzurri” akan selalu menjadi pendorong bagi kebangkitan sepak bola Italia.







